Selasa, 02 Juni 2009

HARAPAN CERIA


Dulu setiap ada waktu senggang, saya merasa santai-santai saja. Bahkan waktu saya lebih banyak nganggur daripada kesibukannya. Karena jam mengajar di sekolah cuma 3 hari dalam seminggu. Apalagi putra saya sudah masuk Taman Kanak-Kanak. Dia mulai bisa melakukan kegiatannya secara mandiri, termasuk lebih suka bermain dengan teman-temannya di luar rumah. Praktis waktu saya semakin longgar.

Setelah sekitar setahun saya menjalani hari-hari seperti itu, saya akhirnya jenuh juga. Bukan berarti saya tidak bersyukur karena sudah diberikan Allah amanah untuk mengurus suami dan seorang putra. Tetapi saya merasa bahwa, seharusnya bisa melakukan lagi hal lain yang lebih bermanfaat.

Lingkunganku adalah lingkungan yang menurut saya sudah termasuk agak rawan sosial. Karena pergaulan yang makin lama makin merisaukan bagi perkembangan generasi kampung. Disini terdapat banyak tempat untuk nongkrong. Dari yang sekedar main kartu sepuasnya sampai mabuk-mabukan. Bagi kebanyakan anak-anak dan remajanya,Kegiatan mereka selain sekolah tidak ada lagi. Sebagian besar waktu dihabiskan dengan bermain dan bermain sampai malam hari.

Maka sekitar September tahun lalu, saya mulai mengumpulkan anak-anak di sekitar rumah untuk membentuk komunitas belajar. Ya, belajar tentang segala hal, terutama kajian tentang Alquran. Jumlah mereka tidak terlalu banyak . Hanya sekitar 12 anak, mulai usia kelas 3 SD sampai kelas VIII SMP. Kita sepakat untuk mengadakan belajar (ngaji) selama 4 hari dalam seminggu, yaitu hari Rabu sampai Sabtu. Dan supaya tidak jenuh karena hanya diisi oleh saya beserta suami, maka setiap hari Sabtu saya berjanji untuk berusaha mendatangkan semacam "bintang tamu". Ternyata cara ini sukses menarik minat anak-anak. Merekapun dengan bangga menyebut wadah belajar ini dengan nama CLUB NGAJI "CERIA" alias Cerdas Riang dan Aktif. Hebat anak-anakku!

Untuk mengapresiasi semangat anak - anak tersebut, tepat satu bulan setelah berjalannya kegiatan ini, saya ajak mereka nonton bareng film Laskar Pelangi di Fotuna High Techmall Surabaya. Hal yang lebih membanggakan lagi uang untuk beli karcis dan saku adalah hasil dari tabungan mereka sendiri . Dan tabungan itu mereka pulalah yang mengelolahnya sendiri.

Entah mengapa kok saya tidak dari dulu membentuk komunitas positif ini. Saya agak menyesal kenapa baru sekarang terpikir akan hal itu. Padahal di luar dugaan, komunitas anak-anak ini dapat bertahan sampai sekarang. Walaupun dalam perjalanan mencapai enam bulan ini tidak mudah. Apalagi akhir- akhir ini konsentrasi anak-anak terkuras untuk menghadapi Ulangan Tengah Semester di Sekolah dan mungkin juga semangat yang mulai luntur. Sehingga dalam 3 minggu ini yang hadir dalam forum hanya 3 sampai 5 anak. Maka semakin terasa beratlah tantangan dalam meneruskan komunitas ini. Tetapi paling tidak saya cukup puas karena bisa mewarnai hari-hari mereka dengan hal yang positif. Dan semoga ini menjadi hal yang sangat berkesan bagi mereka kelak. Satu asa sederhana saya adalah agar nantinya kegiatan ini bisa menjadi bagian dari pembangunan peradaban dari sebuah kampung kecil di sudut selatan kota Gresik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar